Hari ini saya memberikan materi pelatihan untuk para spesialis yaitu tenaga asisten perawat. Di rumah sakit diberlakukan kebijakan untuk merekruit tenaga lulusan sekolah lanjutan atas yang dididik selama 6 bulan untuk kami tempatkan menjadi tenaga para spesialis disebut asisten perawat. Tugas utamanya adalah membantu tenaga profesional perawat yang bersifat mendukung pemenuhan kebutuhan dasar pasien non invasif seperti memandikan, menyuapi makanan, memberesi tempat tidur dan lainnya. Tentu saja dibatasi untuk pasien-pasien yang relatif stabil dan dirawat di ruang reguler bukan di ruang intensif. Sehingga dengan demikian para perawat dapat lebih konsen memberikan pelayanan asuhan keperawatan yang lebih kompleks.
Pengalaman kami selama 4 tahun terakhir mendayagunakan tenaga para spesialis ini cukup baik. Tentu saja hal ini tidak bisa dilepaskan dengan proses pelatihan sebelumnya yang mencakup berbagai hal terkait dengan tugas-tugas mereka maupun supervisi dari para tenaga profesional perawat atas pelaksanaan tugas tugasnya.
Sebenarnya di dunia internasional tenaga para spesialis ini juga sudah diakui termasuk di negara Paman Sam sana. Tinggal kita mengadopsinya sesuai dengan karaker dan standar kompetensi yang dapat dicapai oleh para petugas tersebut.
Memang perlu kerja keras terutama saat rekruitmen dan pelatihannya karena kandidat yang berminat mengambil peluang pelatihan dan pekerjaan ini kebanyakan dengan tingkat intelektualitas yang sedang-sedang saja sehingga perlu metodologi pelatihan yang lebih berorientasi kepada praktik di lapangan (Rumah Sakit). Untuk antisipasi gugatan dari kalangan profesi maka perlu dibatasi kewenanganannya sebagai tenaga bantuan terhadap tenaga profesi perawat saja.
Karena yang dihadapinya adalah manusia walaupun tugas pokoknya relatif sederhana tetap saja perlu pematangan karakter dan wawasan yang cukup berkaitan dengan hubungan antara petugas dengan pasien ini. Penyiapan karakter yang berperhatian kepada pasien sekaligus cukup stabil untuk menghadapi karakter pasien yang bermacam-macam perlu terus diasah selama pelatihan maupun saat bekerja. Untuk itu pemahaman mengenai kepuasan pelanggan dan kerja sama tim perlu dibekalkan sejak dini.
Saya kira pendayagunaan tenaga ini juga merupakan salah satu cara memanfaatkan tenaga lokal di wilayah sekitar rumah sakit berdiri sehingga dapat turut mengurangi pengangguran dan dalam rangka CSRnya rumah sakit berbentuk penyediaan fasilitas pelatihannya selama 6 bulan.
Selasa, 11 Maret 2008
Rabu, 05 Maret 2008
Merencanakan rumah sakit di tempat baru
Pagi ini saya mendapat konsultasi dari staf saya di Bandung melalui YM tentang bagaimana menentukan demand dari rumah sakit pemerintah baru di suatu daerah di sebuah Kabupaten di Propinsi Sumatera Barat. Tentu saja untuk menentukan demand pembangunan rumah sakit yang baru akan didirikan di suatu daerah dibandingkan dengan pengembangan rumah sakit yang sudah ada lebih sukar. Demand tersebut dapat dihitung merujuk pada hasil penelitian yang dilakukan terutama oleh BPS atau Depkes melalui Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) yang menunjukkan prosentasi dari penduduk yang membutuhkan pelayanan rumah sakit baik rawat inap maupun rawat jalan. Karena hasil survey tersebut menggambarkan rata-rata nasional maka perlu dikonfirmasikan dengan data yang digali dari sarana pelayanan kesehatan terdekat baik di tingkat dasar yaitu puskesmas, klinik atau praktek dokter maupun rumah sakit yang ada di wilayah yang berdekatan. Selain itu data dari profile kesehatan daerah setempat juga dapat dijadikan pembanding. Kita mengambil rumah sakit terdekat dengan jenjang yang tidak jauh berbeda untuk menjadi patok duga memproyeksikan data epidemiologis dan lingkup pelayanan yang diperlukan dan bahkan sekaligus menentukan unggulan dari rumah sakit yang akan didirikan. Dalam kajian demand ini tentu saja tidak dapat dilepaskan dari kemampuan maupun keinginan membayar dari masyarakat terhadap tawaran pelayanan rumah sakit yang akan didirikan nanti. Maka idealnya kajian demand ini tidak merujuk pada data sekunder saja tapi dipertajam akurasinya dengan mengadakan survey primer. Tentu saja survey dilaksanakan sesuai dengan kemampuan sumber dana yang tersedia. Dengan mengambil sampel responden dari proyeksi wilayah yang akan dijadikan wilayah cakupan rumah sakit yang akan didirikan. Untuk rumah sakit daerah wilayah cakupannya tentu saja mencakup wilayah kabupaten atau kotanya secara keseluruhan sedangkan rumah sakit swasta memproyeksikan kemungkinan masyarakat dari wilayah yang paling mungkin akan memanfaatkan rumah sakit tersebut.
Memang dalam pelayanan rumah sakit terkadang kunjungan pasien tidak dapat dibatasi oleh geographis seperti yang dapat diinjuced dengan wisata medis dari satu negara ke negara lain. Namun dari beberapa survey primer yang dilakukan umumnya masalah kedekatan lokasi rumah sakit terutama untuk masyarakat kebanyakan masih menjadi pertimbangan utama.
Oleh karena itu menjadi penting survey primer yang dapat menggali aspek karakteristik, persepsi masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang pernah mereka alami dan preferensi pelayanan rumah sakit apa yang mereka inginkan.
Sehingga dengan mendalami faktor-faktor tersebut maka akan diketahui demand yang lebih akurat terhadap keberadaan rumah sakit yang akan dibangun sehingga pembangunan rumah sakit baru yang akan menyita investasi yang besar tidak hanya karena ambisi saja tapi memang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakatnya.
Memang dalam pelayanan rumah sakit terkadang kunjungan pasien tidak dapat dibatasi oleh geographis seperti yang dapat diinjuced dengan wisata medis dari satu negara ke negara lain. Namun dari beberapa survey primer yang dilakukan umumnya masalah kedekatan lokasi rumah sakit terutama untuk masyarakat kebanyakan masih menjadi pertimbangan utama.
Oleh karena itu menjadi penting survey primer yang dapat menggali aspek karakteristik, persepsi masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang pernah mereka alami dan preferensi pelayanan rumah sakit apa yang mereka inginkan.
Sehingga dengan mendalami faktor-faktor tersebut maka akan diketahui demand yang lebih akurat terhadap keberadaan rumah sakit yang akan dibangun sehingga pembangunan rumah sakit baru yang akan menyita investasi yang besar tidak hanya karena ambisi saja tapi memang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakatnya.
Senin, 03 Maret 2008
Budaya rumah sakit
Saat mendapat konsultasi dari staf yang ditempatkan di RS Permata Hati Banda Aceh saya tercenung mendengar adanya beberapa staf yang retriksi terhadap agenda perubahan di rumah sakit terutama pengaturan kepegawaian yang berhubungan dengan jam dinas. Saya kira ketidakpahaman bahwa perubahan dimanapun selama dalam rangka perbaikan adalah sebuah peluang sebenarnya untuk siapapun tidak memandang jenjang dan profesi. Karena mungkin dengan rutinitas sebelumnya bahkan mungkin sudah sampai pada tingkat jumud maka potensi orang per orang sudah tidak terapresiasi lagi oleh senior maupun pimpinannya masing-masing. Dengan adanya agenda perubahan lebih-lebih di fasilitasi oleh pihak ketiga merupakan peluang untuk mengekspresikan diri. Nabi Yusuf saja berani menyatakan kesiapannya mengelola pembendaharaan negara dan selama itu dalam rangka kebaikan tidak ada yang salah dengan ikut mengekspresikan diri.
Dalam kasus di rumah sakit akhirnya para senior yang tidak mau berubah bertumbangan baik suka maupun tidak suka karena secara norma maupun moral memang sudah tidak layak bertahan. Pihak manajemen dengan fasilitasi konsultan memang harus berani mengatakan 'take it or leave it' agar budaya rumah sakit yang lebih baik dapat dibentuk.
Yang menarik pada saat akan merubah kultur di kelompok satpam, terpaksa direkruit terlebih dahulu seorang satpam baru yang lebih segar, dengan pendidikan yang lebih tinggi dan postur yang lebih besar. Akhirnya person trouble makernya tidak tahan dengan tekanan untuk lebih disiplin dan mengundurkan diri. Kami mendo'akan semoga ybs. mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
Memang pembinaan manajemen di rumah sakit di Aceh cukup unik karena berhadapan dengan perilaku masyarakatnya yang mempunyai tingkat percaya diri yang tinggi. Sehingga perlu diingatkan bahwa pekerjaan apapun adalah amanah, bahkan bagi seorang petugas pembersih sekalipun. Tidak hina bahkan terhormat karena menjadi pengaman untuk faktor kebersihan rumah sakit. Hal ini perlu diingatkan berulang ulang karena ada 'perasaan berat' bagi ybs saat seorang 'Aceh' harus jadi petugas kebersihan sedangkan ada 'rekan dari jawa' yang mempunyai jabatan yang lebih tinggi. Kita harus dapat memperlakukan ybs tetap dalam konteks kesetaraan sebagai sesama makhluk beragama namun mempunyai perbedaan dalam hak dan kewajiban sesuai tingkat pendidikan dan kompetensinya.
Dalam kasus di rumah sakit akhirnya para senior yang tidak mau berubah bertumbangan baik suka maupun tidak suka karena secara norma maupun moral memang sudah tidak layak bertahan. Pihak manajemen dengan fasilitasi konsultan memang harus berani mengatakan 'take it or leave it' agar budaya rumah sakit yang lebih baik dapat dibentuk.
Yang menarik pada saat akan merubah kultur di kelompok satpam, terpaksa direkruit terlebih dahulu seorang satpam baru yang lebih segar, dengan pendidikan yang lebih tinggi dan postur yang lebih besar. Akhirnya person trouble makernya tidak tahan dengan tekanan untuk lebih disiplin dan mengundurkan diri. Kami mendo'akan semoga ybs. mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
Memang pembinaan manajemen di rumah sakit di Aceh cukup unik karena berhadapan dengan perilaku masyarakatnya yang mempunyai tingkat percaya diri yang tinggi. Sehingga perlu diingatkan bahwa pekerjaan apapun adalah amanah, bahkan bagi seorang petugas pembersih sekalipun. Tidak hina bahkan terhormat karena menjadi pengaman untuk faktor kebersihan rumah sakit. Hal ini perlu diingatkan berulang ulang karena ada 'perasaan berat' bagi ybs saat seorang 'Aceh' harus jadi petugas kebersihan sedangkan ada 'rekan dari jawa' yang mempunyai jabatan yang lebih tinggi. Kita harus dapat memperlakukan ybs tetap dalam konteks kesetaraan sebagai sesama makhluk beragama namun mempunyai perbedaan dalam hak dan kewajiban sesuai tingkat pendidikan dan kompetensinya.
Rabu, 27 Februari 2008
Rekruitmen dokter spesialis
Hari ini saya mewawancara dokter spesialis untuk direkruit menjadi dokter spesialis dan wawancara ini adalah yang kesekian kali setelah wawancara lain sebelumnya. Ada hal yang menarik saya dapatkan dan membuat saya makin optimis bahwa ada dokter spesialis yang menempatkan uang bukan segala-galanya. Padahal sudah dibuka pertanyaan berapa garansi pendapatan bulanan yang diminta tapi ada beberapa dokter spesialis dan saya yakin bukan pura-pura menyatakan bagaimana kebijakan rumah sakit atau memberikan rentang pendapatan tapi menurut saya masih wajar. Yang menarik mereka menempatkan misi agama sebagai hal yang menjadi tujuan utama. Wah kalau agama menjadi acuan saya optimis rumah sakit kami yang akan segera operasional bulan Mei depan akan 'berkah' bagi semua pihak.
Tapi kemarin saya mengalami hal yang cukup memprihatinkan karena pada saat diminta informasi mengenai kehidupan beragama di keluarga dan diminta juga menguraikan penanganan kasus di bidang spesialisasinya, ybs. nampak tersinggung dan ada dua kejadian yang pertama langsung menyatakan tidak jadi melamar dan yang satu lagi dengan mengosongkan isian form tersebut. Menjadi pertanyaan saya kenapa tersinggung ya kalau memang kita tidak ada masalah dalam hal yang ditanyakan itu. Memang akuntabilitas diri kita harus bisa dipertanggungjawabkan sehingga siapapun bertanya kita tidak harus khawatir karena 'itulah' diri kita seadanya.
Tapi kemarin saya mengalami hal yang cukup memprihatinkan karena pada saat diminta informasi mengenai kehidupan beragama di keluarga dan diminta juga menguraikan penanganan kasus di bidang spesialisasinya, ybs. nampak tersinggung dan ada dua kejadian yang pertama langsung menyatakan tidak jadi melamar dan yang satu lagi dengan mengosongkan isian form tersebut. Menjadi pertanyaan saya kenapa tersinggung ya kalau memang kita tidak ada masalah dalam hal yang ditanyakan itu. Memang akuntabilitas diri kita harus bisa dipertanggungjawabkan sehingga siapapun bertanya kita tidak harus khawatir karena 'itulah' diri kita seadanya.
Langganan:
Postingan (Atom)