Senin, 03 Maret 2008

Budaya rumah sakit

Saat mendapat konsultasi dari staf yang ditempatkan di RS Permata Hati Banda Aceh saya tercenung mendengar adanya beberapa staf yang retriksi terhadap agenda perubahan di rumah sakit terutama pengaturan kepegawaian yang berhubungan dengan jam dinas. Saya kira ketidakpahaman bahwa perubahan dimanapun selama dalam rangka perbaikan adalah sebuah peluang sebenarnya untuk siapapun tidak memandang jenjang dan profesi. Karena mungkin dengan rutinitas sebelumnya bahkan mungkin sudah sampai pada tingkat jumud maka potensi orang per orang sudah tidak terapresiasi lagi oleh senior maupun pimpinannya masing-masing. Dengan adanya agenda perubahan lebih-lebih di fasilitasi oleh pihak ketiga merupakan peluang untuk mengekspresikan diri. Nabi Yusuf saja berani menyatakan kesiapannya mengelola pembendaharaan negara dan selama itu dalam rangka kebaikan tidak ada yang salah dengan ikut mengekspresikan diri.
Dalam kasus di rumah sakit akhirnya para senior yang tidak mau berubah bertumbangan baik suka maupun tidak suka karena secara norma maupun moral memang sudah tidak layak bertahan. Pihak manajemen dengan fasilitasi konsultan memang harus berani mengatakan 'take it or leave it' agar budaya rumah sakit yang lebih baik dapat dibentuk.
Yang menarik pada saat akan merubah kultur di kelompok satpam, terpaksa direkruit terlebih dahulu seorang satpam baru yang lebih segar, dengan pendidikan yang lebih tinggi dan postur yang lebih besar. Akhirnya person trouble makernya tidak tahan dengan tekanan untuk lebih disiplin dan mengundurkan diri. Kami mendo'akan semoga ybs. mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
Memang pembinaan manajemen di rumah sakit di Aceh cukup unik karena berhadapan dengan perilaku masyarakatnya yang mempunyai tingkat percaya diri yang tinggi. Sehingga perlu diingatkan bahwa pekerjaan apapun adalah amanah, bahkan bagi seorang petugas pembersih sekalipun. Tidak hina bahkan terhormat karena menjadi pengaman untuk faktor kebersihan rumah sakit. Hal ini perlu diingatkan berulang ulang karena ada 'perasaan berat' bagi ybs saat seorang 'Aceh' harus jadi petugas kebersihan sedangkan ada 'rekan dari jawa' yang mempunyai jabatan yang lebih tinggi. Kita harus dapat memperlakukan ybs tetap dalam konteks kesetaraan sebagai sesama makhluk beragama namun mempunyai perbedaan dalam hak dan kewajiban sesuai tingkat pendidikan dan kompetensinya.

Tidak ada komentar: